Sabtu, 22 Februari 2014

Mr Brown Si Kopi Asal Taiwan

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat menyebabkan terjadinya perubahan gaya hidup yang salah satunya berdampak pula pada perubahan pola konsumsi masyarakat. Gaya hidup yang ingin selalu serba cepat melahirkan produk produk siap saji. Pada kategori minuman kopi, kalau dahulu selalu identik dengan minuman panas, kini perubahan itu telah terjadi. Semakin banyak brand baru yang menawarkan RTDC atau Ready To Drink Coffee.

NESCAFE dapat dikatakan sebagai brand yang memelopori konsumsi kopi dalam kondisi dingin di tanah air. Pada pertengahan tahun 2000an nescafe menawarkan produk ice coffee yang dapat diminum dalam keadaan dingin dengan memberikan bundling seperangkat shaker. Selanjutnya mereka juga mulai meluncurkan produk produk RTDC dalam kemasan karton tetra dengan berbagai varian seperti coffee cream, black, french vanilla serta caramelicious. Kalau dulu pemain kopi siap minum ini hanya menjual dalam kemasan karton tetra, seperti misalnya Cappucini, maka kini mulai menjualnya dalam kemasan mini PET yang berkesan praktis, kami mencatat ada beberapa pemain lokal yang cukup serius terjun di kategori ini, misalnya Good Day dari dan juga 78 (degree) dari Mayora. Selain itu, kalau dulu produk impor juga dijual dalam harga yang relatif mahal, sekitar 25 ribuan  (Sobe misalnya) namun kini  banyak produk impor yang dapat dibeli dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu sekiitar Rp. 10 ribuan.

Salah satu produk impor yang akan kami bahas kali ini adalah Mr. BROWN, produk asal Taiwan yang dapat ditemukan di gerai gerai sekelas hypermarket. Brand ini merupakan produk yang diimpor dari negara Taiwan dan diproduksi oleh King Car Food Industrial Co, Ltd. Produk dari Mr. Brown ini dapat ditemikan dalam kemasan kaleng 240 ml dan 330 ml.

King Car ini merupakan salah satu pemain minuman di Taiwan, selain memiliki Mr. BROWN, mereka juga mengusung merek Yogofresh untuk kategori Yoghurt dan juga Kavalan untuk kategori minuman beralkohol.

Menurut hemat kami, rasa yang dimiliki oleh produk ini tidak begitu berbeda dengan rasa yang dimiliki oleh pemain lokal lainnya. Rasa kopinya terasa ringan. Produk mix semacam ini seperti kopi dengan rasa vanilla, tentunya memang tidak ditujukan bagi para pecinta minuman kopi sejati.

Ada satu hal yang menarik bagi kami dari kemasan kaleng Mr. Brown yaitu masih menggunakan kemasan dengan pola 3 pieces can, yang terdiri dari komponen tutup,  body kaleng dan dasar kaleng. Teknologi kemasan semacam ini dapat ditemukan pada kaleng minuman jaman baheula atau pada pada saat ini kemasan iklan sarden. Pabrik minuman pada saat ini cenderung untuk mengemas minuman dengan pola 2 pieces, yaitu hanya tutup dan body yang telah menyatu dengan dasar.

Meskipun hadir dalam kemasan PET, namun produk ini juga tidak didesign secara menarik. Sehingga terkesan merupakan produk yang ditujukan bagi konsumen yang konservatif. 

Tak ada salahnya bila anda juga mencoba produk ini, sehingga bisa mendapatkan suatu pengalaman baru cita rasa kopi dari Taiwan. Apakah kopi ini dapat menjadi jawara di bumi Nusantara? Hanya waktu yang akan betbicara.

Mountea Sparkling Minuman Buah Bersoda

Setelah beberapa saat terdiam, nampaknya Garudafood kembali menggeliatkan brand Mountea.
Brand yang awalnya sukses di kategori minuman cup teh rasa apel ini pada era pertengahan 2000an itu kini dinaikkan derajatnya dengan memiliki varian dalam kemasan PET.

Mountea Sparkling dengan volume 330 ml ini mengkategorikan dirinya ke dalam Carbonated tea. Sehingga produk ini berhadapan dengan brand Tebs yang diproduksi oleh Sinar Sosro. Inovasi yang dikeluarkan pleh Garudafood memang agak terlambat, karena Tebs sudah ada di pasar mungkin sejak 8 tahun yang lalu. Keberadaan Tebs sebenarnya dimaksudkan untuk menantang langsung kategori carbonated soft drink yang pada waktu lalu cukup berjaya di Indonesia, sekaligus memperbesar market RTDT dengan melebarkan varian baru.

Tetapi meskipun banyak upaya yang dilakukan oleh pihak Sosro untuk mengangkat carbonated tea ini, seperyi melalui iklan TV, dan banyak aktigitas BTL yang berkaitan dengan youth seperti music dan movie, namun nampaknya hasilnya tidak begitu menggembirakan. Berdasarkan pengamatan kami, kekuatan Tebs masih pada modern channel, belum membumi di pasar tradisional yang sesungguhnya berkontribusi besar bagi dunia minuman. Di tahun 2014 ini, Tebs terlihat juga turut menjadi sponsor bagi perhelatam jazz akbar "Java Jazz"

Nah melihat apa yang dialami Tebs,  mungkin nasib yang sama juga akan menimpa Mountea Sparkling ini. Apalagi tim distribusi beverages GF tidaklah setangguh Sinar Sosro. 

Kemasan yang ditampilkan produk ini sangat menarik dan harmonis, serba ungu, mewakili warna cairan blackcurrant yang wakilinya. Visual splash dan butiran blackcurrant juga bagus. Rasa yang ditawarkan oleh Mountea Sparkling sebenarnya cukup menarik,  namun menurut pengamatan kami rasa tehnya yang sangat ringan mungkin akan kurang menarik bagi pecinta teh. Selain itu kadar atau tingkat kemanisannya cukup tinggi,  sehingga minuman ini kurang cocok untuk pelepas dahaga.

Apakah kesuksesan mountea sparkling dapat melampaui kesuksesan mountea cup beberapa waktu lalu? Agak sulit menurut kami,  selain karena faktor faktor yang telah kami sebutkan diatas, ada faktor lainnya, yaitu semakin banyaknya pilihan produk baru bagi konsumen dan USP produk ini tidak terlalu kuat. Banyak produk teh buah yang mati setelah diluncurkan.

Bagaimana menurut anda?


Mizone Cocopina cara danone sambut Piala Dunia

Ajang piala dunia atau world cup 2014 yang akan diadakan pada pertengahan tahun nanti, nampaknya cukup menarik bagi pihak produsen untuk dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan promosi. Misalnya saja dikategori perbankan, pihak Bank Permata telah memanfaakan ajang piala dunia ini unyuk mempromosikan produk tabungan Permata Familionaire dengan hadiah pergi ke Brazil. Demikian juga bank mandiri mempromosikan karyu kreditnya.

Nah di kategori minuman sendiri, ada satu produk yang cukup menarik perhatian,  yaitu mizone Cocopina. Varian baru dari mizone ini menawarkan kombinasi antara rasa coco (kelapa) dan pineapple (nanas). Seperti kita ketahui buah kelapa dan nanas merupakan simbolisasi dari daerah tropikal. Cocopina dikemas dalam kemasan yang cukup menarik dan berkesan sangat festive. Dengan pepaduan kombinasi antara warna biru khas mizone dengan warna warna hijau dan kuning. Menariknya pada kemasan ini, terdapat visual silhouette orang sedang menendang bola serta banyak visual bola. Pada kemasan tampak belakang terdapat kalimat : Brazil semangatnya,  Nendang hadiahnya.

Meskipun mizone bukan merupakan sponsor resmi piala dunia,  namun mereka secara cerdas mampu untuk  mengaitkan produk ini dengan event akbar tersebut yang kebetulan diadakan di Brazil. Produk ini benar benar disiapkan untuk menyambut acara tersebut, semua unsur seolah klop, coba tengoklah mulai dari rasa yang menampilkan buah buahan khas tropikal, warna kemasan yang festive yang juga seolah merepresntasikan bendera brazil serta visualisasi orang sedang menendang bola. Apabila kita mengunjungi website mizone di www.mizone.co.id maka kita akan menemukan adanya promosi penjualan yang memberikan berbagai hadiah menarik yang dikaitkan dengan Brazil

Cara cerdik seperti mizone dalam menyambut Piala Dunia ini, biasanya juga akan dilakukan oleh PepsiCola di Indonesia. Meskipun juga tidak menjadi sponsor resmi Piala Dunia, tetapi Pepsi Cola menjadikan para pemain bola dunia sebagai ambassador mereka. Jadi pada event tersebut,  biasanya Pepsi akan mengadakan promosi yang berfokus pada para pemain tersebut, bukan pada piala dunianya.

Produk cocopina ini, nampaknya memiliki peluang untuk dapat berkontribusi besar bagi brand mizone di tahun 2014 ini karena beberapa faktor  yaitu : rasa produk ini cukup unik. Rasa air kelapanya juga lumayan terasa. Perpaduan antara kelapa dan nanas menjadikan rasa Covopina  cukup unik dan berbeda dengan produk lainnya. Faktor kedua adalah kemasannya Cocopina yang cukup menarik perhatian saat berada di shelf atau rak pajang. Dan faktor terakhir adalah momentum Piala Dunia serta promosi penjualan yang memberikan berbagai hadiah yang berkaitan dengan momen akbar tersbut.

Mampukan mizone Cocopina menyepak lawan lawannya di ajang pertarungan antar minuman isotonik di tahun 2014 dan menjadi pemenang? Kita lihat saja nanti.

Minggu, 08 September 2013

Teh Gelas Teh Lawas Yang Naik Kelas


Teh Gelas merupakan brand RTDT (Ready To Drink Tea) yang sudah lama berada di pasar sejak beberapa tahun lalu. Kini Teh Gelas Hadir dalam kemasan Tetra kemasan family pack 500 ml. Rasa yang ditawarkan juga lumayan enak, tidak begitu berbeda dengan apa yang ditawarkan si market leader. 3 tahun lalu brand ini hanya bisa ditemukan dalam kemasan cup 190 ml dan dijual dengan harga eceran tertinggi seharga Rp. 1000. Brand ini merupakan produk dari PT. CS2 Pola Sehat yang merupakan bagian dari Orang Tua Group.

Teh Gelas di awal kemunculannya sempat menjadi salah-satu pemain yang cukup disegani dikategori Teh Cup, karena rasanya yang lumayan enak dan dengan klaim "kaya Polifenol". Pesaing terdekatnya hanyalah h Tekita dari PT. PepsiCola Indobeverages. Karena Mountea dari Garudafood, pada saat itu lebih berkonsentrasi pada minuman teh rasa buah. Pada masa itu pemain di kategori cup yang memiliki kemampuan untuk mendistribusikan di skala nasional hanyalah ketiga merek tadi. Namun entah mengapa setelah beberapa saat peluncuran varian Green Tea, seolah olah nama Teh Gelas pun menghilang dari pasaran.

Ketiga brand tersebut dalam komunikasi pemasarannya juga tidak segan segan untuk menggunakan selebritis.Mountea misalnya menggunakan grup pop remaja Viera untuk iklannya. Sementara Itu Tekita menggunakan VJ MTV Daniel dan Cathy Sharon. Sedangkan Teh Gelas menggunakan grup band Changcuters dan Dance Company. Bahkan Teh Gelas juga melakukan consumer promo Gelegar Kebaikan Teh Gelas yang bernilai milyaran rupiah. Namun kini popularitas ketiga brand ini sudah semakin redup., dan tergantikan oleh Teh Rio yang sejak kemunculannya mempercayakan iklannya pada Grup SMASH.

Nampaknya bisnis minuman cup semakin suram, karena biaya produksi dan distribusi yang semakin tinggi  sementara harga jual juga sulit untuk dinaikkan. Dalam suatu studi yang pernah kami lakukan, disebutkan bahwa HET akan bertumpu pada Rp. 1000. Apabila terjadi kenaikan harga maka akan menurunkan minat membeli konsumen secara drastis. Sehingga tidaklah mengherankan bila Mountea dan Teh Gelaspun berpindah segment untuk membidik kelas yang lebih atas.

Nampaknya manuver Teh Gelas untuk membidik segmen premium tidak akan berjalan secara mudah. Karena saat ini Teh Botol Sosro telah menggunakan berbagai jenis kemasan dan ukuran untuk dapat hadir dan menguasai secara dominan gerai gerai premium. Selain itu, brand Teh Gelas sudah terlanjur dikenal sebagai minuman cup yang mengandung bahan pengawet dan juga notabene lebih ditujukan bagi kelas bawah akankah menarik bagi kalangan kelas atas ?

Hanya waktu yang akan membuktikan. Tapi kami melihat, banyak PR yang harus Tim marketing teh gelas lakukan untuk dapat menembus blokade ini.

Rabu, 07 Agustus 2013

BIG COLA Memang Benar Benar BIG


Big Cola minuman berkarbonasi asal Peru ini, nampaknya memang patut menyandang nama dan mencantumkan Think Big pada kemasannya. Dalam beberapa tahun belakangan ini, peta minuman berkarbonasi di Jakarta berubah total. Bila dahulu Coca Cola merajai pasar tradisional dan dibuntuti oleh Pepsi Cola, maka sekarang Big Cola-lah yang mengambil alih posisi itu. Bahkan keberadaannya di outlet tradisional benar benar ada dimana mana. Agen agen minuman sangat memuji kinerja minuman ini. Bahkan kemasan Big Cola yang 3 liter menurut mereka sebagai Coke Killer. Apa yang dikatakan para agen memang benar karena dengan Volume 3 liter dengan harga yang hanya Rp. 15.000 merupakan harga yang ekonomis bagi minuman "Cola" yang bergengsi. Sayangnya kemasan Jumbo Size ini memang masih sangat sulit ditemukan dan hanya ada pada toko atau agen tertentu saja, tidak seperti kemasan kecil yang 500 ml plus yang sudah menyebar kemana mana.

Rasa Big Cola yang acceptable dan harga yang terjangkau menyebabkan Big Cola dapat diterima masyarakat berbagai kalangan masyarakat. Tetapi dalam beberapa kasus nampaknya merek Coca Cola di pasar modern masih sangat kuat. Dalam beberapa kunjungan ke gerai hypermarket, terlihat produk Coke jauh lebih banyak diambil konsumen ketimbang Pepsi Cola. Bahkan di moment seperti lebaran ini harga Coke juga tidak beranjak turun jauh. Nampaknya Pepsi Cola sadar diri, sebagai merek yang tidak popular, mereka memberikan diskon hampir 30% lebih melalui mekanisme Beli 2 free 1 botol.Promo ini dapat ditemukan di Lion Superindo. Tetapi meskipun telah memberikan diskon besar, menurut staf di gerai ini, tetap saja pergerakan Pepsi Cola masih dibawah Coke. Nah apakah Big Cola siap untuk mengambil alih posisi Pepsi Cola di gerai modern ?

Saat ini nampaknya memang Big Cola belum terlalu serius memasuki gerai gerai modern yang memang mensyaratkan komitmen marketing fund yang luar biasa besar dari para produsen. Dengan harga jual yang sangat ekonomis, nampaknya akan sulit bagi Big Cola untuk dapat membiayai promosi di pasar modern. Meskipiun demikian, prestasi Big Cola di gerai tradisional patut diacungkan jempol, karena meskipun kategori CSD (carbonated soft drink) semakin menurun, tetapi brand ini masih dapat mengembangkan penjualannya dengan baik.